Sabtu, 31 Mei 2014

Cahaya Di Langit Palestina



oleh: Nurul Hidayah

Dear diary..
Di negeri kami langit selalu tampak bercahaya,
dari jauh sekilas cahaya itu akan tampak indah,
berwarna-warni menghias angkasa.
Namun, siapa sangka? Ternyata cahaya itu datang meminta ribuan tumbal nyawa.
Nyawa dari manusia-manusia yang jiwanya tidak pernah merasakan takut tatkala suara-suara raksasa dari rudal-rudal melebur bersama suara-suara senapan yang menebarkan ratusan peluru. Menyayatkan sembilu atas ribuan nyawa.
Pembantaian atas pengkhianatan kemanusiaan itu datang dari sebuah negeri calon penghuni neraka abadi.
Mereka datang dengan hasrat kebinatangan, bukan lagi kerasukan, tapi naluri kebinatangan itu telah menelusup, menjalar, bahkan telah mendarah daging dalam diri mereka, hingga sebuah nyawa kaumnya tidak lebih berharga dari nyawa seekor nyamuk yang harus segera dimusnahkan.

Serangkaian kata bercampur emosi ku tumpahkan di secarik kertas, tepatnya di sebuah buku jurnal milik seorang dokter yang ku temukan tergeletak di camp pengungsian, semasa masih berada di camp milik PBB di daerah Lebanon. Dari sampul jurnalnya, sepertinya buku jurnal ini milik seorang dokter asal Indonesia, karena disitu ada bendera, serta nama negaranya. Buku ini ku jadikan sebagai tempat curahan hatiku, dan puisi-puisi yang ku tujukan untuk negri tercintaku, Palestina.

“Braaakkk....” suara pintu rumahku di buka dengan kasar.
Aku menoleh sesaat dan diam beberapa detik untuk memastikan apa yang terjadi.
“Berdiri Tegap! Angkat Tangan Kalian” suara serdadu membuyarkan kebisuan. Tanpa fikir panjang,  Aku berlari menuju arah suara tersebut, tepatnya di ruang tamu rumahku.
“HANIFA.. LARI NAK....” seru ibuku yang saat itu urat lehenya tepat berada di ujung sebuah pisau.  Ternyata, rumah kami dimasuki 3 orang serdadu Israel.
Dengan cepat, salah seorang serdadu berwajah beringas memegang tanganku.
“Kakakmu Anggota HAMAS Bukan? Kau adik Abdul Azziz bukan?” tanyanya sambil menggenggam dengan erat tangan kananku. Tulangnya yang kuat mencengkram tulang lengan kurusku.
“Dimana Kakakmu  Dan Kawanan Teroris Lainnya Bersembunyi??  JAWAB!! “ gertak serdadu yg mencengkeram lenganku.
“Teroris? Huh’ maling teriak maling, mana mungkin kami mau jadi teoris di tanah sendiri? Kalianlah yang teroris dan pencuri!! kalian yg datang menumpang sebagai pengungsi, lalu sedikit demi sedikit menggerogoti, perlahan tapi pasti mendesak kami semakin tersingkir dari Jalur Gaza, jalur yang seharusnya menjadi hak milik kami sepenuhnya.” Emosiku dalam hati
“AKU TAK TAU” jawabku ketus
“Aahhh Pembohong..!! “PLAK” tangan bajanya menampar pipiku. Aku merasakan hawa panas di sekitar pipi dan bibirku. Aku tidak boleh kalah dan menyerah.
Yah Secara kasat mata mereka mungkin menang, itu pun hanya sementara. Aku yakin, kakakku dan para mujahid lainnya tengah mempersiapkan rencana untuk mengirim mereka ke neraka Jahannam. Bahkan malaikat Malik pun sudah tak sabar menunggu mereka di pintu neraka”  aku makin emosi. Jari tangan kiriku terkepal. Penuh dendam.
“jangan siksa dia, di masih kecil” pinta ayahku yang berada di susut ruangan. Kulihat ia berdiri di ujung senapan  AK-47 yang ditodongkan seorang serdadu berkepala botak mengkilat bak bohlam.
Kulihat bibir ibuku tidak hentinya melafazkan dzikir.
“Kalau Kau Mau Gadis Kecilmu Selamat, Bekerjasamalah Dengan Kami” serdadu pembawa AK47 itu kembali berbicara.
“baiklah, kalau begitu. Kami bawa dulu putri cerewetmu ini, kalian ingat-ingat saja dulu, dimana anak laki-lakimu,  Abdul Azziz dan kawanan teroris lainnya bersembunyi” kata seradu itu kepada ibuku.
Satu persatu mereka meninggalkan rumah, dan mulai menyereretku masuk ke dalam mobil jeepnya.
Sebelum masuk ke dalam mobil, aku kembali menoleh ke rumah kecilku. Kedua orang tuaku hanya bisa berdiri dan menatapku dari depan pintu.
Sebelum pergi, ayah berlari memelukku dan membisikkanku surah Al Imran ayat 30,
Yang artinya,
Hai orang-orang yang beriman, bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu dan tetaplah bersiap siaga (di perbatasan negerimu) dan bertakwalah kepada Allah, supaya kamu beruntung. 
Pelukan dari ayah di akhiri dengan tendnagan dari seorang serdadu yang memaksa untuk memisahkan kami. Aku hanya bisa berdoa di dlam hati agar ayah, ibu serta semua ummat muslim di Palestina dilindungi oleh ALLAH SWT.
Di dalam jeep, wajahku ditutupi menggunakan kain hitam, dan tanganku terikat di belakang.
ayah,. Ibu,,, doakan aku agar tetap istiqomah dan bersabardoaku dalam hati.


                                                            ________________________




Dingin mencekam, menjalar di setiap sel-sel tubuhku. Aku beringsut. Membetulkan letak tidurku. Lantai yang lembab semakin memperparah keadaan. Baju tipis ini tidak bisa menutupi gigil yang semakin menyelingkupiku. Sejak datang, tubuhku langsung di lemparkan kemari. Lalu entah ada berapa orang yang menendang dan menginjak tubuhku. Aku tidak tau, karena saat itu, kepalaku masih terbungkus kain hitam. Seinggatku, aku pingsan karena menahan sakit. Kini penutup kepala itu telah di buka. Aku tau, kini aku tengah berada di salah satu penjara bawah tanah, entah di kota mana. Hanya ada aku seorang diri di dalam sel ini. Yang jelas ku lihat tubuhku membiru dan serta bengkak dan lebam kesakitan. Aku harus bersabar. Yaah ini baru siksaan kecil yang tidak lebih berat bila dibanding Bilal sahabat rasul yang di genjet dengan batu panas di siang yang terik, hanya karena ia memeluk agama Allah.
Aku terdiam, mataku menatap langit-langit penjara bawah tanah ini. Bau anyir darah masih samar-samar tercium dari sudut-sudutnya. Entah pukul berapa ini, aku masih saja terjaga dan tak bisa memejamkan mata. Bayangan tentang kedua orang tua,  serta semua saudara muslim diluar sana terus membayangiku. Bagaimana keadaan mereka?
Aku menatap keluar sel. Polisi perempuan bertubuh gempal penuh lemak tengah asyik tertidur di atas bangku panjang. Sedang ke dua rekan prianya menikmati cerutu sambil main kartu. Salah seorang sipir laki-laki berwajah buruk rupa itu melirikku dengan senyum menyeringai dan tatapan penuh nafsu.
“TIDAK!” teriakku dalam hati.
Ia datang mendekat, membuka sel dan menyuruhku kelur. Tapi aku tidak mau dan bersikeras untuk tetap berada dalam sel 1x2 meter ini. Ia tidak sabar, ia datang dan menyeret kedua kakiku dengan kasar agar keluar dari sel. Ia menyeretku dengan sangat buas. Aku bagai binatang buruan yang tak sabar ia lahab. Aku terus meronta dan memohon kepada Rabbku atas kekuasaan-Nya.
Sipir laki-laki itu menyentuh tubuhku  dan memaksaku untuk membuka baju tahanan yang ku kenakan. Aku berontak, namun sia-sia. Ia mulai mengerayangi tubuhku. Seumur hidup, aku baru pertama kali merasakan penyiksaan yang membuatku ingin bunuh diri.
tooloooooooongggggggg” teriakku pada sipir perempuan, berharap ia akan mengehentikan perlakuan rekannya. Aku berteriak hingga teriakanku menghenyakkan bumi Palestina dan membangunkan penghuni langit. Tapi sipir perempuan itu malah tersenyum puas melihatku yang meronta dan tak berdaya. Otakku mulai berfikir cepat untuk mengakhiri tindakan mereka.
“GREK!” ku gigit sekuat tenaga kuping serdadu bermata licik itu.
“Aacch Sialan!” erangnya
“PLAK” tangannya mendaraat di pipiku.
Pipi dan bibirku terasa  panas dan memerah. Hidungku seketika itu langsung mengalirkan cairan merah kental. Namun serdadu itu tak kapok, akupun tak mau kalah. Ia kembali berusaha untuk menggerayangi tubuhku. Aku kembali melawan, kali ini sebuh tendangan tepat mengenai ulu hatinya. Badannya terdorong kebelakang hingga kepala pelontosnya mengenai meja besi dibelakangnya.
RASAKAN!” teriakku dalam hati
“Dia itu anak baru. Tenaganya masih kuat, sudah! Cari yang lain saja. Besok kalian janagn beri dia makan, dan tunggu saja sampai besok malam. Ia pasti akan berlultut memohon ampun padamu” ujar salah satu sipir pria bermata serigala kepadaatemannya yang hampir saja mengerogoti kehormatanku.
“Agghh sialan. Kuping dan hidungku panas kena gigi rabiesnya.” Umpatnya kesal
Dari pembicaraan mereka, aku baru tau kalau di penjara bawah tanah ini masih banyak muslimah lain yang di tahan, “Rabb,, selamatkanlah saudariku yang lain” pintaku dalam hati.
Sipir perempuan itu lalu mendekatiku, dan menutup kepalaku dengan  sebuah kain hitam, tanganku lalu diikat. Aku dituntunnya untuk berdiri, dan kepalaku dibenturkan ke tembok.
Tidak hanya sekali, melainkan dua atau tiga kali. Aku sudah tak ingat. Kepalaku sakit sekali. Walaupun kepalaku di tutupi kain, dan mereka tidak melihat wajahku, Aku berusaha menahan isakku. Aku yakin, jika mereka tau aku menangis, mereka akan merasa puas.
 Aku harus sabar, karena penderitaanku ini belum ada apa-apanya dibandingkan dnegan para mujahid dan mujahidah lain, serta ketiga kakakku yang bergabung dengan PLO (Palestine Liberation Organisation) atau Organisasi Pembebasan Palestina sejak 5 tahun lalu. Ketiga kakakku menjemput syahid dengan jalan yang indah.
Aku tidak boleh kalah, Walaupun aku seorang perempuan, aku harus berjuang. Seperti para tokoh muslimah perempuan di Palestina yang rela syahid demi negaranya. Seperti kisah Wafa Idris yg awalnya perawat di Bulan Sabit Merah, lalu menjadi syahid dengan meledakkan dirinya, sehingga membuat 5 serdadu Israel tewas dan 150 orang lainnya terluka.
Serta kisah Laila Khalid yang terlibat dalam dua operasi pembajakan pesawat, yang pertama adalah pembajakan pesawat Boeing 707 milik maskapai TWA (Trans World Airlines) dalam perjalanan Roma menuju Athena. pada bulan Agustus 1969, dan yang kedua adalah pembajakan pesawat milik Isral, El Ai yang terbang dari Amsterdam, September 1970. Aku ingat pelajaran sejarah dulu.
Dimata kami aksi Laila Khalid mempunyai dua tujuan pokok: pertama, aksi ini ditujukan kepada dunia tentang eksistensi Bangsa Palestina. Pada saat itu, bangsa Palestina hanya diharga sebatas sebagai pengungsi. Padahal, kami adalah sebuah bangsa, Kedua, tujuan kedua aksi itu adalah membebaskan seluruh tahanan politik Palestina di penjara Israel. Aku harus menjdaikan kedua kisah Ini sebagai penyemangat, dan Pengobar panji-panji jihadku.
Bismillah, aku harus istiqomah. Yang aku tau, Allah bersamaku.



BERSAMBUNG.......

0 komentar:

Posting Komentar

 
Created by malik