KAMMI For Indonesia

Cinta KAMMI Untuk Indonesia

Bergabung Dengan KAMMI

----------------------------------

16th KAMMI

KAMMI For Indonesia Since 1998

Sabtu, 31 Mei 2014

Cahaya Di Langit Palestina



oleh: Nurul Hidayah

Dear diary..
Di negeri kami langit selalu tampak bercahaya,
dari jauh sekilas cahaya itu akan tampak indah,
berwarna-warni menghias angkasa.
Namun, siapa sangka? Ternyata cahaya itu datang meminta ribuan tumbal nyawa.
Nyawa dari manusia-manusia yang jiwanya tidak pernah merasakan takut tatkala suara-suara raksasa dari rudal-rudal melebur bersama suara-suara senapan yang menebarkan ratusan peluru. Menyayatkan sembilu atas ribuan nyawa.
Pembantaian atas pengkhianatan kemanusiaan itu datang dari sebuah negeri calon penghuni neraka abadi.
Mereka datang dengan hasrat kebinatangan, bukan lagi kerasukan, tapi naluri kebinatangan itu telah menelusup, menjalar, bahkan telah mendarah daging dalam diri mereka, hingga sebuah nyawa kaumnya tidak lebih berharga dari nyawa seekor nyamuk yang harus segera dimusnahkan.

Serangkaian kata bercampur emosi ku tumpahkan di secarik kertas, tepatnya di sebuah buku jurnal milik seorang dokter yang ku temukan tergeletak di camp pengungsian, semasa masih berada di camp milik PBB di daerah Lebanon. Dari sampul jurnalnya, sepertinya buku jurnal ini milik seorang dokter asal Indonesia, karena disitu ada bendera, serta nama negaranya. Buku ini ku jadikan sebagai tempat curahan hatiku, dan puisi-puisi yang ku tujukan untuk negri tercintaku, Palestina.

“Braaakkk....” suara pintu rumahku di buka dengan kasar.
Aku menoleh sesaat dan diam beberapa detik untuk memastikan apa yang terjadi.
“Berdiri Tegap! Angkat Tangan Kalian” suara serdadu membuyarkan kebisuan. Tanpa fikir panjang,  Aku berlari menuju arah suara tersebut, tepatnya di ruang tamu rumahku.
“HANIFA.. LARI NAK....” seru ibuku yang saat itu urat lehenya tepat berada di ujung sebuah pisau.  Ternyata, rumah kami dimasuki 3 orang serdadu Israel.
Dengan cepat, salah seorang serdadu berwajah beringas memegang tanganku.
“Kakakmu Anggota HAMAS Bukan? Kau adik Abdul Azziz bukan?” tanyanya sambil menggenggam dengan erat tangan kananku. Tulangnya yang kuat mencengkram tulang lengan kurusku.
“Dimana Kakakmu  Dan Kawanan Teroris Lainnya Bersembunyi??  JAWAB!! “ gertak serdadu yg mencengkeram lenganku.
“Teroris? Huh’ maling teriak maling, mana mungkin kami mau jadi teoris di tanah sendiri? Kalianlah yang teroris dan pencuri!! kalian yg datang menumpang sebagai pengungsi, lalu sedikit demi sedikit menggerogoti, perlahan tapi pasti mendesak kami semakin tersingkir dari Jalur Gaza, jalur yang seharusnya menjadi hak milik kami sepenuhnya.” Emosiku dalam hati
“AKU TAK TAU” jawabku ketus
“Aahhh Pembohong..!! “PLAK” tangan bajanya menampar pipiku. Aku merasakan hawa panas di sekitar pipi dan bibirku. Aku tidak boleh kalah dan menyerah.
Yah Secara kasat mata mereka mungkin menang, itu pun hanya sementara. Aku yakin, kakakku dan para mujahid lainnya tengah mempersiapkan rencana untuk mengirim mereka ke neraka Jahannam. Bahkan malaikat Malik pun sudah tak sabar menunggu mereka di pintu neraka”  aku makin emosi. Jari tangan kiriku terkepal. Penuh dendam.
“jangan siksa dia, di masih kecil” pinta ayahku yang berada di susut ruangan. Kulihat ia berdiri di ujung senapan  AK-47 yang ditodongkan seorang serdadu berkepala botak mengkilat bak bohlam.
Kulihat bibir ibuku tidak hentinya melafazkan dzikir.
“Kalau Kau Mau Gadis Kecilmu Selamat, Bekerjasamalah Dengan Kami” serdadu pembawa AK47 itu kembali berbicara.
“baiklah, kalau begitu. Kami bawa dulu putri cerewetmu ini, kalian ingat-ingat saja dulu, dimana anak laki-lakimu,  Abdul Azziz dan kawanan teroris lainnya bersembunyi” kata seradu itu kepada ibuku.
Satu persatu mereka meninggalkan rumah, dan mulai menyereretku masuk ke dalam mobil jeepnya.
Sebelum masuk ke dalam mobil, aku kembali menoleh ke rumah kecilku. Kedua orang tuaku hanya bisa berdiri dan menatapku dari depan pintu.
Sebelum pergi, ayah berlari memelukku dan membisikkanku surah Al Imran ayat 30,
Yang artinya,
Hai orang-orang yang beriman, bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu dan tetaplah bersiap siaga (di perbatasan negerimu) dan bertakwalah kepada Allah, supaya kamu beruntung. 
Pelukan dari ayah di akhiri dengan tendnagan dari seorang serdadu yang memaksa untuk memisahkan kami. Aku hanya bisa berdoa di dlam hati agar ayah, ibu serta semua ummat muslim di Palestina dilindungi oleh ALLAH SWT.
Di dalam jeep, wajahku ditutupi menggunakan kain hitam, dan tanganku terikat di belakang.
ayah,. Ibu,,, doakan aku agar tetap istiqomah dan bersabardoaku dalam hati.


                                                            ________________________




Dingin mencekam, menjalar di setiap sel-sel tubuhku. Aku beringsut. Membetulkan letak tidurku. Lantai yang lembab semakin memperparah keadaan. Baju tipis ini tidak bisa menutupi gigil yang semakin menyelingkupiku. Sejak datang, tubuhku langsung di lemparkan kemari. Lalu entah ada berapa orang yang menendang dan menginjak tubuhku. Aku tidak tau, karena saat itu, kepalaku masih terbungkus kain hitam. Seinggatku, aku pingsan karena menahan sakit. Kini penutup kepala itu telah di buka. Aku tau, kini aku tengah berada di salah satu penjara bawah tanah, entah di kota mana. Hanya ada aku seorang diri di dalam sel ini. Yang jelas ku lihat tubuhku membiru dan serta bengkak dan lebam kesakitan. Aku harus bersabar. Yaah ini baru siksaan kecil yang tidak lebih berat bila dibanding Bilal sahabat rasul yang di genjet dengan batu panas di siang yang terik, hanya karena ia memeluk agama Allah.
Aku terdiam, mataku menatap langit-langit penjara bawah tanah ini. Bau anyir darah masih samar-samar tercium dari sudut-sudutnya. Entah pukul berapa ini, aku masih saja terjaga dan tak bisa memejamkan mata. Bayangan tentang kedua orang tua,  serta semua saudara muslim diluar sana terus membayangiku. Bagaimana keadaan mereka?
Aku menatap keluar sel. Polisi perempuan bertubuh gempal penuh lemak tengah asyik tertidur di atas bangku panjang. Sedang ke dua rekan prianya menikmati cerutu sambil main kartu. Salah seorang sipir laki-laki berwajah buruk rupa itu melirikku dengan senyum menyeringai dan tatapan penuh nafsu.
“TIDAK!” teriakku dalam hati.
Ia datang mendekat, membuka sel dan menyuruhku kelur. Tapi aku tidak mau dan bersikeras untuk tetap berada dalam sel 1x2 meter ini. Ia tidak sabar, ia datang dan menyeret kedua kakiku dengan kasar agar keluar dari sel. Ia menyeretku dengan sangat buas. Aku bagai binatang buruan yang tak sabar ia lahab. Aku terus meronta dan memohon kepada Rabbku atas kekuasaan-Nya.
Sipir laki-laki itu menyentuh tubuhku  dan memaksaku untuk membuka baju tahanan yang ku kenakan. Aku berontak, namun sia-sia. Ia mulai mengerayangi tubuhku. Seumur hidup, aku baru pertama kali merasakan penyiksaan yang membuatku ingin bunuh diri.
tooloooooooongggggggg” teriakku pada sipir perempuan, berharap ia akan mengehentikan perlakuan rekannya. Aku berteriak hingga teriakanku menghenyakkan bumi Palestina dan membangunkan penghuni langit. Tapi sipir perempuan itu malah tersenyum puas melihatku yang meronta dan tak berdaya. Otakku mulai berfikir cepat untuk mengakhiri tindakan mereka.
“GREK!” ku gigit sekuat tenaga kuping serdadu bermata licik itu.
“Aacch Sialan!” erangnya
“PLAK” tangannya mendaraat di pipiku.
Pipi dan bibirku terasa  panas dan memerah. Hidungku seketika itu langsung mengalirkan cairan merah kental. Namun serdadu itu tak kapok, akupun tak mau kalah. Ia kembali berusaha untuk menggerayangi tubuhku. Aku kembali melawan, kali ini sebuh tendangan tepat mengenai ulu hatinya. Badannya terdorong kebelakang hingga kepala pelontosnya mengenai meja besi dibelakangnya.
RASAKAN!” teriakku dalam hati
“Dia itu anak baru. Tenaganya masih kuat, sudah! Cari yang lain saja. Besok kalian janagn beri dia makan, dan tunggu saja sampai besok malam. Ia pasti akan berlultut memohon ampun padamu” ujar salah satu sipir pria bermata serigala kepadaatemannya yang hampir saja mengerogoti kehormatanku.
“Agghh sialan. Kuping dan hidungku panas kena gigi rabiesnya.” Umpatnya kesal
Dari pembicaraan mereka, aku baru tau kalau di penjara bawah tanah ini masih banyak muslimah lain yang di tahan, “Rabb,, selamatkanlah saudariku yang lain” pintaku dalam hati.
Sipir perempuan itu lalu mendekatiku, dan menutup kepalaku dengan  sebuah kain hitam, tanganku lalu diikat. Aku dituntunnya untuk berdiri, dan kepalaku dibenturkan ke tembok.
Tidak hanya sekali, melainkan dua atau tiga kali. Aku sudah tak ingat. Kepalaku sakit sekali. Walaupun kepalaku di tutupi kain, dan mereka tidak melihat wajahku, Aku berusaha menahan isakku. Aku yakin, jika mereka tau aku menangis, mereka akan merasa puas.
 Aku harus sabar, karena penderitaanku ini belum ada apa-apanya dibandingkan dnegan para mujahid dan mujahidah lain, serta ketiga kakakku yang bergabung dengan PLO (Palestine Liberation Organisation) atau Organisasi Pembebasan Palestina sejak 5 tahun lalu. Ketiga kakakku menjemput syahid dengan jalan yang indah.
Aku tidak boleh kalah, Walaupun aku seorang perempuan, aku harus berjuang. Seperti para tokoh muslimah perempuan di Palestina yang rela syahid demi negaranya. Seperti kisah Wafa Idris yg awalnya perawat di Bulan Sabit Merah, lalu menjadi syahid dengan meledakkan dirinya, sehingga membuat 5 serdadu Israel tewas dan 150 orang lainnya terluka.
Serta kisah Laila Khalid yang terlibat dalam dua operasi pembajakan pesawat, yang pertama adalah pembajakan pesawat Boeing 707 milik maskapai TWA (Trans World Airlines) dalam perjalanan Roma menuju Athena. pada bulan Agustus 1969, dan yang kedua adalah pembajakan pesawat milik Isral, El Ai yang terbang dari Amsterdam, September 1970. Aku ingat pelajaran sejarah dulu.
Dimata kami aksi Laila Khalid mempunyai dua tujuan pokok: pertama, aksi ini ditujukan kepada dunia tentang eksistensi Bangsa Palestina. Pada saat itu, bangsa Palestina hanya diharga sebatas sebagai pengungsi. Padahal, kami adalah sebuah bangsa, Kedua, tujuan kedua aksi itu adalah membebaskan seluruh tahanan politik Palestina di penjara Israel. Aku harus menjdaikan kedua kisah Ini sebagai penyemangat, dan Pengobar panji-panji jihadku.
Bismillah, aku harus istiqomah. Yang aku tau, Allah bersamaku.



BERSAMBUNG.......

Selasa, 27 Mei 2014

Sang Murobbi

Oleh
Muh Saldin syafar

Dunia begitu kelam
Dalam setiap langkah-langkah kami
Kami begitu terlena dalam
Tipuan dunia

Kami tak tahu harus bagaimana
Kami merasa harga diri kami hilang
Hilang dalam kemerlapnya dunia
Kami mencoba mencari harga diri kami yang hilang
Suatu hari seseorang datang kepada kami
Tak kenal siapakah dia
Namun perlahan dia memberi kami cara mancari harga diri itu
Dengan cara selalu dekatkan diri kepada allah swt.
Sang murobbi
Dia telah mengembalikan harga diri kami yang terbuang
Dia telah menerangi kami dalam gelapnya dunia
Dia telah menunjukan jalan saat kami tersesat
Dia telah memberi makna hidup ini kepada kami
Terimah kasih atas semuanya
Semoga apa yang engkau berikan kepada kami
Di balas allah swt.


profil penulis
https://www.facebook.com/muhammad.saldin.1?fref=nf 

Senin, 26 Mei 2014

HANYA BUNGA AKHIR ZAMAN

Oleh: Nurul Hidayah

Maafkan Aku..
Karena Belum Bisa Menjadi Mawar
Yang Tumbuh Indah Dalam Hutan, Di Pinggir Jurang..
Kelopaknya Terlindungi Oleh Pohon Yang Kokoh,
Sejuk Disiram  Embun Daun Jati..
Elok Karena Jarang Terkena Sinar Mentari...

Maafkan Aku...
Jangan Bandingkn Diri Ini Dengan Bunga Mawar Impianmu..
Karena Batangku Tak Sekokoh Itu,
Aku Hanyalah Bunga Akhir Zaman..
Yang Durinya Tidak Setajam Durian..
Yang Wanginya Tak Semerbak Menghangatkan..

Dimana Kelopakku Kini Mulai Pudar
Oleh Hujan Penuh Asam,
Daunku Pun Tak Rimbun,
Akibat Tangan-Tangan Nakal..
Biarkan Waktu Menuntunku,
Menjadi  Mawar Impian,

profil penulis
https://www.facebook.com/aya.rainlovers

SEMANGAT UNTUK KAMMI

 Oleh: Rahmawati Palette

Dalam ketidak sempurnaan kami terus berjalan
melangkahkan kaki bersama teman-teman kammi
kami melewati berbagai arah rintangan
dengan motifasi KAMMI lah yang mnjadi sumber kekuatan
untuk itu kami bersyukur dengan hari-hari bersama KAMMI
inilah niat hidup yang kami dambakan
bersama keluarga KAMMI kami bisa lebih termotifasi untuk berbuat kebaikan
memberi motifasi penyemangat untuk kami baik suka maupun duka
jika mereka mendengar kata-kata motifasi dari kammi
mereka selalu berkata, bosan.... dan bukan hanya di kammi terdapat motifasi-motifasi
kami pun menjawab, iyah itu benar.. tidak hanya di kammi terdapat motifasi
tapi lihatlah...kami tak seperti sekarang seandainya kami tidak gabung di KAMMI
Sungguh sedikit dari mereka melihat dengan mata mereka sendiri dan melihat dengan hati mereka sendiri
Aku selalu berfikir dengan orang-orang di luar KAMMI
mengapa mereka tidak ingin gabung dengan KAMMI
padahal di KAMMI terdapat banyak ilmu pengetahuan dan banyak pengalaman bernilai positif
afwan... seperjuangan ku
apakah kalian menyesal masuk di KAMMI?
jika kalian menyesal, mngapa... apa alasan anda
KAMMI adalah wadah yang akan membentuk kita untuk menjadi orang yang berguna bagi masyarakat
apalagi yang kalian ragukan dalam KAMMI
KAMMI penuh dengan semangat perjuangan
KAMMI penuh dengan semangat kerjasama
Disinalah kami mendapat banyak pengetahuan
Disinilah kami bersatu baik dalam suka maupun duka

profil penulis
https://www.facebook.com/rahmawati.palette?fref=ts

SANG PENCARI JEJAK HAKEKAT DAKWAH


Oleh:  Muh Saldin syafar

Rembulan bersinar terang
Menerangi gelapnya malam
Dia melangkah menjadi penerang
Dalam hausnya keimanan

Walau rintangan menerjang
Menghimpit keinginan
Langkah-langkahmu terus berjenjang
Demi mengapai apa yang engkau cari
Sampai kapan KAMMI
Kau jadikan hiasan bibirmu
Sampai kapan KAMMI
Kau jadikan titelmu
Sampai kapan KAMMI
Kau jadikan sarana duniawimu
Ikhwafillah…………
T’lah tiba masanya
Kau jadikan dirimu aktivis dakwah
T’lah tiba masanya
Kau jadikan dirimu sebagai pembela kebenaran
T’lah tiba masanya
Kau tanamkan kebaikan2 yang ada
T’lah tiba masanya
Kau singkirkan keburukan2 yang ada
T’lah tiba masanya
Kau arahkan dirimu ke jalan allah swt
Buktikanlah bahwa KAMMI bukan hanya
Hiasan bibir kita
Bukan hanya titel kita
Bukan hanya Sarana duniawi kita
Tapi, KAMMI adalah sarana
Yang menjadikan diri kita untuk melangkahkan
Kaki kita ke jalan allah swt
Semua orang2 tahu nama kita
Tapi tidak semua orang tahu cerita kita dalam KAMMI
KAMMI adalah perubahan
Yang religius, bermoral, dan bermartabat dalam uhkuwah islamiyah
ALLAHU AKBAR……………

profil penulis
https://www.facebook.com/muhammad.saldin.1?fref=ts

KAMMI Milik Siapa?

Oleh : Muh Saldin Syafar

KAMMI milik siapa…?
Apakah milik orang-orang yang hari-hari-Nya sebagai pemulung
Apakah milik ibu-ibu yang setiap hari berjalan memunggut puing-puing sampah
Atau kah milik para tukang becak yang sibuk dengan keinginannya
Atau kah milik para pengusaha yang asik duduk menikmati hasil usahanya
Atau milik para koruptor yang menyengsarahkan rakyatnya


TIDAK…..


KAMMI hanyalah milik orang-orang yang memiliki jiwa keberanian dalam kebaikan
KAMMI hanyalah milik para pejuang yang menegakan kebaikan
KAMMI hanyalah milik para pemberantas keburuk-keburukan yang ada
KAMMI hanyalah milik para pejuang ke jalan allah swt
KAMMI hanyalah milik kita sebagai jiwa keislaman


IKHWAFILLAH
Sampai kapan KAMMI ada dalam diri kita?
Sampai kapan KAMMI akan menjadi rumahmu untuk mengapai ridhonyaallah swt?
KAMMI akan selalu ada dalam langkah kita dan sampai maut menjemput kita.


profil penulis

"JANJI SEMU YANG HAUS AKAN HARTA”

Oleh : Rahmawati Palette

Matahari muncul dari ufuk timur
Matahari pun tenggelam di ufuk barat
Dari terbit sampai tenggelamnya matahari
Di pikiran mereka hanya ada uang…uang dan uang
Jika engkau butuh kami engkau dekat
Jika engkau sudah punya kedudukan engkau tidak memingat kami lagi
Apakah orang seperti itu pantas jadi pemimpin atau pejabat !
Tidak… tidak… tidak sama sekali

Tapi… 
Mengapa sekarang yang punya kedudukan adalah orang-orang banyak uang
Para masyarakat miskin pun terus dibodohi
Oleh para pejabat akan haus uang
Mereka hanya memikirkan diri mereka sendiri
Mereka tak memiliki rasa kasihan dengan rakyat jalanan
Dimana yang selama ini kalian pelajari sebelum kalian jadi orang besar

Dimana…
Kami rakyat ingin juga menikmati negeri yang kaya
Tapi kapan…
Dimana pengetahuan kalian tentang UUD dan PANCASILA
Dimana tanggung jawab kalian terhadap rakyat miskin
Dimana rasa kemanusiaan kalian
Kalian hanya senang-senang duduk di kursi smbil angkat kaki dan pangku tangan
sedangkan kami... untuk makan saja susah
keadilan gampang di ucapkan
kejujuran terabaikan
semata-mata karena uang
Dimana nilai norma kita selama ini
Hanya karena persoalan nilai nominal
Rupa dan harta tak sebanding dengan orang yang berilmu

Tapi mengapa... sekarang orang yang berilmu dan berpangkat tinggi
Justru beberapa dri mereka yang mementingkan diri sendiri
kami budak tapi kami manusia
bukankah engkau manusia tapi seperti tikus dalam kubangan
engkau tertawa terbahak-bahak di ruangan yang dingin
sedangkan kami…
Mencari makan pun harus terbakar mentari
Janji-janji mu dulu sangat banyak pada kami
Tapi sekarang… mana yang engkau janjikan dulu pada kami, mana…

Harapan itu takkan ada jika bukan engkau yang mulai
Kami mengangis penuh harapan
Sampai kapan kami terus di bohongi
Saudara saudari ku ingatlah…
Siapa yang berbuat sekehendak hatinya, ia akan mendapat keburukan
Dan siapa yang menanam kebaikan,ia akan mendapat penghargaan

profil penulis

Sabtu, 17 Mei 2014

MELANGKAH DALAM TULISAN: Lomba Menulis Puisi, Cerpen, Novel “Love The Reaso...

MELANGKAH DALAM TULISAN: Lomba Menulis Puisi, Cerpen, Novel “Love The Reaso...:   Persyaratan Umum Lomba Puisi, Cerpen, dan Novel LTR 2014. Peserta adalah Warga Negara Indonesia (WNI) dengan batasan usia minimal ...

 
Created by malik