oleh: Nurul Hidayah
Dear
diary..
Di negeri
kami langit selalu tampak bercahaya,
dari jauh sekilas
cahaya itu akan tampak indah,
berwarna-warni menghias
angkasa.
Namun, siapa sangka?
Ternyata cahaya itu datang meminta ribuan tumbal nyawa.
Nyawa dari
manusia-manusia yang jiwanya tidak pernah merasakan takut tatkala suara-suara
raksasa dari rudal-rudal melebur bersama suara-suara senapan yang menebarkan
ratusan peluru. Menyayatkan sembilu atas ribuan nyawa.
Pembantaian atas
pengkhianatan kemanusiaan itu datang dari sebuah negeri calon penghuni neraka
abadi.
Mereka datang dengan
hasrat kebinatangan, bukan lagi kerasukan, tapi naluri kebinatangan itu telah
menelusup, menjalar, bahkan telah mendarah daging dalam diri mereka, hingga
sebuah nyawa kaumnya tidak lebih berharga dari nyawa seekor nyamuk yang harus
segera dimusnahkan.
Serangkaian
kata bercampur emosi ku tumpahkan di secarik kertas, tepatnya di sebuah buku
jurnal milik seorang dokter yang ku temukan tergeletak di camp pengungsian,
semasa masih berada di camp milik PBB di daerah Lebanon. Dari sampul jurnalnya,
sepertinya buku jurnal ini milik seorang dokter asal Indonesia, karena disitu
ada bendera, serta nama negaranya. Buku ini ku jadikan sebagai tempat curahan
hatiku, dan puisi-puisi yang ku tujukan untuk negri tercintaku, Palestina.
“Braaakkk....” suara
pintu rumahku di buka dengan kasar.
Aku menoleh sesaat
dan diam beberapa detik untuk memastikan apa yang terjadi.
“Berdiri Tegap!
Angkat Tangan Kalian” suara serdadu membuyarkan kebisuan. Tanpa fikir
panjang, Aku berlari menuju arah suara
tersebut, tepatnya di ruang tamu rumahku.
“HANIFA.. LARI
NAK....” seru ibuku yang saat itu urat lehenya tepat berada di ujung sebuah
pisau. Ternyata, rumah kami dimasuki 3
orang serdadu Israel.
Dengan cepat, salah
seorang serdadu berwajah beringas memegang tanganku.
“Kakakmu Anggota
HAMAS Bukan? Kau adik Abdul Azziz bukan?” tanyanya sambil menggenggam dengan
erat tangan kananku. Tulangnya yang kuat mencengkram tulang lengan kurusku.
“Dimana Kakakmu Dan Kawanan Teroris Lainnya
Bersembunyi?? JAWAB!! “ gertak serdadu
yg mencengkeram lenganku.
“Teroris?
Huh’ maling teriak maling, mana mungkin kami mau jadi teoris di tanah sendiri?
Kalianlah yang teroris dan pencuri!! kalian yg datang menumpang sebagai
pengungsi, lalu sedikit demi sedikit menggerogoti, perlahan tapi pasti mendesak
kami semakin tersingkir dari Jalur Gaza, jalur yang seharusnya menjadi hak
milik kami sepenuhnya.” Emosiku dalam hati
“AKU TAK TAU” jawabku
ketus
“Aahhh Pembohong..!!
“PLAK” tangan bajanya menampar pipiku. Aku merasakan hawa panas di sekitar pipi
dan bibirku. Aku tidak boleh kalah dan menyerah.
Yah
Secara kasat mata mereka mungkin menang, itu pun hanya sementara. Aku yakin,
kakakku dan para mujahid lainnya tengah mempersiapkan rencana untuk mengirim
mereka ke neraka Jahannam. Bahkan malaikat Malik pun sudah tak sabar menunggu
mereka di pintu neraka” aku makin emosi. Jari tangan kiriku terkepal.
Penuh dendam.
“jangan siksa dia, di
masih kecil” pinta ayahku yang berada di susut ruangan. Kulihat ia berdiri di
ujung senapan AK-47 yang ditodongkan
seorang serdadu berkepala botak mengkilat bak bohlam.
Kulihat bibir ibuku
tidak hentinya melafazkan dzikir.
“Kalau Kau Mau Gadis
Kecilmu Selamat, Bekerjasamalah Dengan Kami” serdadu pembawa AK47 itu kembali
berbicara.
“baiklah, kalau
begitu. Kami bawa dulu putri cerewetmu ini, kalian ingat-ingat saja dulu,
dimana anak laki-lakimu, Abdul Azziz dan
kawanan teroris lainnya bersembunyi” kata seradu itu kepada ibuku.
Satu persatu mereka
meninggalkan rumah, dan mulai menyereretku masuk ke dalam mobil jeepnya.
Sebelum masuk ke
dalam mobil, aku kembali menoleh ke rumah kecilku. Kedua orang tuaku hanya bisa
berdiri dan menatapku dari depan pintu.
Sebelum pergi, ayah
berlari memelukku dan membisikkanku surah Al Imran ayat 30,
Yang artinya,
“Hai
orang-orang yang beriman, bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu dan
tetaplah bersiap siaga (di perbatasan negerimu) dan bertakwalah kepada Allah,
supaya kamu beruntung. “
Pelukan
dari ayah di akhiri dengan tendnagan dari seorang serdadu yang memaksa untuk
memisahkan kami. Aku hanya bisa berdoa di dlam hati agar ayah, ibu serta semua
ummat muslim di Palestina dilindungi oleh ALLAH SWT.
Di dalam jeep, wajahku ditutupi menggunakan kain
hitam, dan tanganku terikat di belakang.
“ayah,.
Ibu,,, doakan aku agar tetap istiqomah dan bersabar” doaku dalam hati.
________________________
Dingin
mencekam, menjalar di setiap sel-sel tubuhku. Aku beringsut. Membetulkan letak
tidurku. Lantai yang lembab semakin memperparah keadaan. Baju tipis ini tidak
bisa menutupi gigil yang semakin menyelingkupiku. Sejak datang, tubuhku
langsung di lemparkan kemari. Lalu entah ada berapa orang yang menendang dan
menginjak tubuhku. Aku tidak tau, karena saat itu, kepalaku masih terbungkus
kain hitam. Seinggatku, aku pingsan karena menahan sakit. Kini penutup kepala
itu telah di buka. Aku tau, kini aku tengah berada di salah satu penjara bawah
tanah, entah di kota mana. Hanya ada aku seorang diri di dalam sel ini. Yang
jelas ku lihat tubuhku membiru dan serta bengkak dan lebam kesakitan. Aku harus
bersabar. Yaah ini baru siksaan kecil yang tidak lebih berat bila dibanding
Bilal sahabat rasul yang di genjet dengan batu panas di siang yang terik, hanya
karena ia memeluk agama Allah.
Aku terdiam, mataku menatap
langit-langit penjara bawah tanah ini. Bau anyir darah masih samar-samar
tercium dari sudut-sudutnya. Entah pukul berapa ini, aku masih saja terjaga dan
tak bisa memejamkan mata. Bayangan tentang kedua orang tua, serta semua saudara muslim diluar sana terus
membayangiku. Bagaimana keadaan mereka?
Aku menatap keluar sel. Polisi
perempuan bertubuh gempal penuh lemak tengah asyik tertidur di atas bangku
panjang. Sedang ke dua rekan prianya menikmati cerutu sambil main kartu. Salah
seorang sipir laki-laki berwajah buruk rupa itu melirikku dengan senyum
menyeringai dan tatapan penuh nafsu.
“TIDAK!”
teriakku dalam hati.
Ia datang mendekat, membuka sel
dan menyuruhku kelur. Tapi aku tidak mau dan bersikeras untuk tetap berada
dalam sel 1x2 meter ini. Ia tidak sabar, ia datang dan menyeret kedua kakiku
dengan kasar agar keluar dari sel. Ia menyeretku dengan sangat buas. Aku bagai
binatang buruan yang tak sabar ia lahab. Aku terus meronta dan memohon kepada
Rabbku atas kekuasaan-Nya.
Sipir laki-laki itu menyentuh
tubuhku dan memaksaku untuk membuka baju
tahanan yang ku kenakan. Aku berontak, namun sia-sia. Ia mulai mengerayangi
tubuhku. Seumur hidup, aku baru pertama kali merasakan penyiksaan yang
membuatku ingin bunuh diri.
“tooloooooooongggggggg” teriakku pada sipir perempuan,
berharap ia akan mengehentikan perlakuan rekannya. Aku berteriak hingga
teriakanku menghenyakkan bumi Palestina dan membangunkan penghuni langit. Tapi
sipir perempuan itu malah tersenyum puas melihatku yang meronta dan tak
berdaya. Otakku mulai berfikir cepat untuk mengakhiri tindakan mereka.
“GREK!”
ku gigit sekuat tenaga kuping serdadu bermata licik itu.
“Aacch
Sialan!” erangnya
“PLAK”
tangannya mendaraat di pipiku.
Pipi dan bibirku terasa panas dan memerah. Hidungku seketika itu
langsung mengalirkan cairan merah kental. Namun serdadu itu tak kapok, akupun
tak mau kalah. Ia kembali berusaha untuk menggerayangi tubuhku. Aku kembali
melawan, kali ini sebuh tendangan tepat mengenai ulu hatinya. Badannya
terdorong kebelakang hingga kepala pelontosnya mengenai meja besi
dibelakangnya.
“RASAKAN!” teriakku dalam hati
“Dia
itu anak baru. Tenaganya masih kuat, sudah! Cari yang lain saja. Besok kalian
janagn beri dia makan, dan tunggu saja sampai besok malam. Ia pasti akan
berlultut memohon ampun padamu” ujar salah satu sipir pria bermata serigala
kepadaatemannya yang hampir saja mengerogoti kehormatanku.
“Agghh
sialan. Kuping dan hidungku panas kena gigi rabiesnya.” Umpatnya kesal
Dari pembicaraan mereka, aku baru
tau kalau di penjara bawah tanah ini masih banyak muslimah lain yang di tahan,
“Rabb,, selamatkanlah saudariku yang lain”
pintaku dalam hati.
Sipir perempuan itu lalu
mendekatiku, dan menutup kepalaku dengan
sebuah kain hitam, tanganku lalu diikat. Aku dituntunnya untuk berdiri,
dan kepalaku dibenturkan ke tembok.
Tidak hanya sekali, melainkan dua
atau tiga kali. Aku sudah tak ingat. Kepalaku sakit sekali. Walaupun kepalaku
di tutupi kain, dan mereka tidak melihat wajahku, Aku berusaha menahan isakku.
Aku yakin, jika mereka tau aku menangis, mereka akan merasa puas.
Aku harus sabar, karena penderitaanku ini
belum ada apa-apanya dibandingkan dnegan para mujahid dan mujahidah lain, serta
ketiga kakakku yang bergabung dengan PLO (Palestine Liberation
Organisation) atau Organisasi
Pembebasan Palestina sejak 5 tahun lalu. Ketiga kakakku menjemput syahid dengan
jalan yang indah.
Aku
tidak boleh kalah, Walaupun aku seorang perempuan, aku harus berjuang. Seperti
para tokoh muslimah perempuan di Palestina yang rela syahid demi negaranya.
Seperti kisah Wafa
Idris yg awalnya perawat di Bulan Sabit Merah, lalu menjadi syahid dengan
meledakkan dirinya, sehingga membuat 5 serdadu Israel tewas dan 150 orang
lainnya terluka.
Serta kisah Laila Khalid yang terlibat dalam dua operasi pembajakan
pesawat, yang pertama adalah pembajakan pesawat Boeing 707 milik
maskapai TWA (Trans
World Airlines) dalam perjalanan Roma menuju Athena. pada bulan Agustus 1969, dan yang kedua
adalah pembajakan pesawat milik Isral, El Ai yang terbang dari
Amsterdam, September
1970. Aku ingat pelajaran sejarah dulu.
Dimata kami aksi Laila Khalid mempunyai dua tujuan pokok: pertama, aksi
ini ditujukan kepada dunia tentang eksistensi Bangsa Palestina. Pada saat itu,
bangsa Palestina hanya diharga sebatas sebagai pengungsi. Padahal, kami adalah
sebuah bangsa, Kedua, tujuan kedua aksi itu adalah membebaskan seluruh tahanan
politik Palestina di penjara Israel. Aku harus menjdaikan kedua kisah Ini
sebagai penyemangat, dan Pengobar panji-panji jihadku.
Bismillah, aku harus istiqomah. Yang
aku tau, Allah bersamaku.
BERSAMBUNG.......















